USD/IDR: Rupiah Berbalik Menguat ke Rp17.675 Jelang Keputusan The Fed

  • Kurs Rupiah menguat 19 poin atau sekitar 0,11% ke Rp17.675 per Dolar AS dari Rp17.694 pada Selasa, setelah sempat tertekan ke area Rp17.730.
  • Imbal hasil Treasury AS 10-tahun bertahan di sekitar 5% dan Brent masih di atas US$108 per barel, meski Dolar AS melemah tipis menjelang keputusan The Fed.
  • BI memproyeksikan Rupiah di kisaran Rp17.300–Rp17.800 pada 2027, sementara ULN Indonesia Juli relatif stabil di US$454,8 miliar.

Rupiah Indonesia (IDR) berbalik menguat terhadap Dolar AS (USD) pada perdagangan Rabu, membawa pasangan mata uang USD/IDR ditutup di Rp17.675 dari Rp17.694 pada Selasa, atau menguat 19 poin sekitar 0,11%. Rupiah sebelumnya sempat tertekan ke area Rp17.730 pada awal perdagangan, sementara kurs referensi JISDOR Bank Indonesia (BI) justru naik menjadi Rp17.712 dari Rp17.687. Pemulihan terjadi ketika Dolar AS melemah tipis menjelang keputusan Federal Reserve (The Fed), meski imbal hasil Treasury AS 10-tahun tetap berada di sekitar 5% dan harga minyak masih tinggi. Dari dalam negeri, BI tetap optimistis terhadap prospek Rupiah, sementara data utang luar negeri menunjukkan posisi kewajiban Indonesia relatif stabil.

Rupiah Pulih meski Imbal Hasil AS Masih di Atas 5%

Tekanan terhadap Rupiah sempat lebih kuat pada awal sesi ketika pasar bersiap menghadapi keputusan kebijakan The Fed. Namun, Indeks Dolar AS (DXY) turun tipis ke sekitar 99,60-an, membantu meredakan tekanan terhadap sejumlah mata uang. Pasar memperhitungkan peluang sekitar 93% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,75%–4,00%.

Meski Dolar melemah, kondisi pasar obligasi AS masih menjadi hambatan bagi penguatan Rupiah. Imbal hasil Treasury AS 10-tahun berada di sekitar 5,007%, bertahan dekat level tertinggi sejak Juli 2027 setelah pada awal pekan menembus 5%. Kenaikan imbal hasil dalam beberapa hari terakhir dipengaruhi ekspektasi kebijakan The Fed yang lebih ketat, kekhawatiran inflasi akibat mahalnya energi, serta tekanan dari pasokan surat utang dan prospek fiskal AS.

Harga minyak tetap menjadi salah satu faktor yang membatasi penguatan Rupiah. Pada saat berita ini ditulis, Brent berada di sekitar US$108,10 per barel, turun 0,60%, sedangkan WTI melemah 1,17% ke US$104,59. Koreksi terjadi setelah Arab Saudi menawarkan tambahan pasokan melalui Oman dan persediaan minyak mentah AS meningkat 7,1 juta barel. Namun, harga yang tetap berada di atas US$100 masih menjaga risiko inflasi dan biaya impor energi pada level tinggi.

Perhatian pasar selanjutnya tertuju pada keputusan The Fed pada Kamis dini hari WIB. Kenaikan 25 basis poin telah banyak diperhitungkan, sehingga arah USD/IDR kemungkinan lebih dipengaruhi oleh proyeksi suku bunga terbaru, dot plot, serta nada Ketua The Fed Kevin Warsh mengenai kemungkinan pengetatan berikutnya. Dengan imbal hasil Treasury masih berada di sekitar 5% dan harga minyak tetap tinggi, tekanan eksternal terhadap Rupiah belum sepenuhnya mereda.

BI Tetap Optimis, ULN Indonesia Relatif Stabil

Dari dalam negeri, Gubernur BI Destry Damayanti memproyeksikan Rupiah berada di kisaran Rp17.300–Rp17.800 per Dolar AS pada 2027, sejalan dengan asumsi makro yang disampaikan dalam pembahasan RUU APBN 2027 dan Nota Keuangan. BI juga menegaskan prioritasnya tetap menjaga stabilitas Rupiah di tengah meningkatnya volatilitas global, termasuk tekanan dari harga minyak dan ketidakpastian kebijakan moneter negara maju.

Data BI terbaru menunjukkan Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada Juli tercatat US$454,8 miliar, relatif stabil dibandingkan US$454,5 miliar pada Juni, meski tumbuh 4,9% secara tahunan. ULN pemerintah mencapai US$218,4 miliar, sementara ULN swasta turun 1,2% YoY menjadi US$194,5 miliar. Rasio ULN terhadap PDB berada di 30,7%, dengan struktur utang masih didominasi tenor jangka panjang.

USD/IDR Kembali Menguji Area 17.700

Secara teknis, USD/IDR di grafik harian ICE bergerak di sekitar 17.690, sedikit di atas MA 100-hari di 17.685 dan garis tengah Bollinger Band di sekitar 17.673,10. Pemulihan dari area 17.500 membawa pasangan mata uang kembali mendekati resistance 17.770, sebelum batas atas Bollinger Band di sekitar 17.814. Penembusan yang bertahan di atas 17.770 akan memperkuat peluang pemulihan lebih lanjut, sedangkan kegagalan melewati area tersebut dapat membuat USD/IDR kembali berkonsolidasi.

Di sisi bawah, 17.600 menjadi support terdekat, diikuti batas bawah Bollinger Band di sekitar 17.532 dan level psikologis 17.500. Jika area tersebut ditembus, support berikutnya terlihat di sekitar 17.410, terendah 12 Mei. Relative Strength Index (RSI) naik ke 47,73 dari area rendah sebelumnya, menunjukkan momentum penurunan USD/IDR mulai berkurang, tetapi masih berada di bawah level netral 50 sehingga pemulihan belum memberikan sinyal kenaikan yang kuat.

Grafik Harian USD/IDR
Grafik Harian USD/IDR

Indikator Ekonomi

Keputusan Suku Bunga The Fed

Federal Reserve (The Fed) berunding tentang kebijakan moneter dan membuat keputusan tentang suku bunga pada delapan pertemuan yang dijadwalkan sebelumnya per tahun. The Fed memiliki dua mandat: untuk menjaga inflasi pada 2%, dan untuk mempertahankan lapangan kerja penuh. Alat utamanya untuk mencapai hal ini adalah dengan menetapkan suku bunga – baik di mana The Fed meminjamkan ke perbankan dan perbankan saling meminjamkan. Jika The Fed memutuskan untuk menaikkan suku bunga, Dolar AS (USD) cenderung menguat karena menarik lebih banyak arus masuk modal asing. Jika The Fed memangkas suku bunga, hal ini cenderung melemahkan USD karena modal mengalir keluar ke negara-negara yang menawarkan pengembalian yang lebih tinggi. Jika suku bunga dibiarkan tidak berubah, perhatian beralih ke nada pernyataan Komite Pasar Terbuka Federal (Federal Open Market Committee/FOMC), dan apakah FOMC hawkish (mengharapkan suku bunga masa depan yang lebih tinggi), atau dovish (mengharapkan suku bunga masa depan yang lebih rendah).

Baca lebih lanjut

Rilis berikutnya Rab Sep 16, 2026 18.00

Frekuensi: Tidak teratur

Konsensus: 4%

Sebelumnya: 3.75%

Sumber: Federal Reserve

Prakiraan Harga USD/JPY: Mundur dari 155,50 dengan kebijakan The Fed menjadi fokus

Yen Jepang (JPY) bergerak datar terhadap Dolar AS (USD) di sekitar 155,00 pada sesi perdagangan Eropa hari Rabu setelah memulihkan pelemahan awalnya.
Leer más Previous

WTI Jatuh Mendekati US$100 saat Saudi Menambahkan Rute Oman, Saham AS Melonjak

Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) terdepresiasi setelah mencatat kenaikan hampir 3% pada hari sebelumnya, diperdagangkan di sekitar $100,00 per barel selama perdagangan sesi Eropa pada hari Rabu
Leer más Next