USD/IDR: Rupiah Menguat ke Rp17.925 setelah PDB Kuartal II Lampaui Prakiraan

  • USD/IDR melemah 0,50% ke Rp17.925 pada perdagangan Rabu.
  • PDB Indonesia tumbuh 5,29% secara tahunan pada kuartal II, melampaui prakiraan pasar.
  • Pelemahan Dolar AS dan harga minyak yang masih di bawah level awal pekan turut menopang Rupiah.

Rupiah Indonesia (IDR) membukukan penguatan terbesar dalam tiga sesi terakhir pada perdagangan Rabu, ditutup naik 90 poin atau 0,50% ke Rp17.925 per Dolar AS (USD) dari Rp18.015 sehari sebelumnya. Kurs referensi JISDOR Bank Indonesia turut turun 100 poin menjadi Rp17.937 dari Rp18.037 pada Selasa.

Data pertumbuhan ekonomi yang lebih baik dari prakiraan menjadi katalis domestik utama, ketika Indeks Dolar AS (DXY) masih tertahan di bawah 100 dan harga minyak bertahan jauh di bawah level sebelum penurunan tajam pada awal pekan.

PDB Kuartal II Melampaui Prakiraan Pasar

Ekonomi Indonesia tumbuh 5,29% secara tahunan pada kuartal II 2026, melampaui konsensus 5,10%, meski melambat dari 5,61% pada tiga bulan pertama tahun ini. Secara kuartalan, PDB meningkat 3,73% setelah berkontraksi 0,77% pada kuartal I.

Rilis PDB memperkuat rangkaian data domestik awal pekan. PMI Manufaktur S&P Global kembali memasuki zona ekspansi di 50,2, inflasi tahunan melandai ke 2,88%, dan defisit perdagangan menyempit menjadi US$450 juta pada Juni.

Meski demikian, risiko terhadap posisi eksternal belum sepenuhnya mereda. Ekonom UOB Enrico Tanuwidjaja dan Vincentius Ming Shen memperingatkan bahwa Indonesia menghadapi risiko defisit transaksi berjalan dan fiskal dalam jangka pendek. “Posisi eksternal Indonesia kemungkinan tetap rentan terhadap perkembangan geopolitik dan fluktuasi pasar energi,” kata mereka. Namun, sebagian lonjakan impor dinilai mencerminkan pembentukan modal dan pengembangan industri.

Dolar Tertahan, Pasar Menunggu Data AS

Dari eksternal, DXY melanjutkan penurunan ke sekitar 99,81 setelah lowongan kerja JOLTS AS turun menjadi 7,359 juta pada Juni dan pesanan pabrik menyusut 0,3% secara bulanan, lebih lemah dari prakiraan. Data tersebut membatasi permintaan terhadap Greenback dan menambah dukungan bagi mata uang negara berkembang.

Harga minyak bergerak naik terbatas pada Rabu, dengan Brent berada di sekitar US$79,96 per barel dan WTI di US$75,81 di awal sesi Eropa. Namun, keduanya masih jauh di bawah level awal pekan setelah harapan kemajuan diplomasi AS–Iran meredakan sebagian kekhawatiran terhadap pasokan melalui Selat Hormuz. Belum adanya kesepakatan final membuat perkembangan geopolitik tetap menjadi risiko bagi Rupiah.

Perhatian pasar berikutnya beralih ke laporan ketenagakerjaan ADP dan PMI Jasa ISM AS malam ini. ADP diprakirakan menunjukkan penambahan 70.000 pekerjaan pada Juli, sedangkan PMI Jasa ISM diprakirakan naik menjadi 54,5 dari 54. Hasil yang lebih kuat dari prakiraan dapat memulihkan Dolar dan kembali menekan Rupiah.

Indikator Ekonomi

Perubahan Ketenagakerjaan ADP

Perubahan Ketenagakerjaan ADP merupakan pengukur ketenagakerjaan di sektor swasta yang dirilis oleh pemroses payrolls terbesar di AS, Automatic Data Processing Inc. Alat ini mengukur perubahan jumlah orang yang bekerja secara swasta di AS. Secara umum, kenaikan indikator ini memiliki implikasi positif bagi belanja konsumen dan merupakan stimulator pertumbuhan ekonomi. Jadi, pembacaan yang tinggi secara tradisional dianggap sebagai bullish bagi Dolar AS (USD), sementara pembacaan yang rendah dianggap bearish.

Baca lebih lanjut

Rilis berikutnya Rab Agu 05, 2026 12.15

Frekuensi: Bulanan

Konsensus: 70Rb

Sebelumnya: 98Rb

Sumber: ADP Research Institute

Pedagang sering mempertimbangkan data ketenagakerjaan dari ADP, penyedia payrolls terbesar di Amerika ini, melaporkan sebagai pertanda dari rilis Biro Statistik Tenaga Kerja tentang Nonfarm Payrolls (biasanya diterbitkan dua hari kemudian), karena korelasi antara keduanya. Terjadinya tumpang tindih kedua seri tersebut cukup tinggi, tetapi pada bulan-bulan tertentu, perbedaannya bisa sangat besar. Alasan lain pedagang Valas mengikuti laporan ini sama dengan NFP – pertumbuhan angka ketenagakerjaan yang kuat dan terus-menerus meningkatkan tekanan inflasi, dan bersamaan dengan itu, kemungkinan bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga. Angka aktual yang mengalahkan konsensus cenderung membuat USD bullish.

Indeks Dolar AS: Bias negatif terbentuk dengan hambatan kebijakan – DBS

Ahli strategi DBS Group Research, Philip Wee, mencatat bahwa Indeks Dolar AS (DXY) kesulitan untuk kembali merebut level 100, dengan mata uang Eropa lebih mencerminkan kelemahan Dolar yang mendasarinya setelah volatilitas Yen Jepang (JPY) dikecualikan.
আরও পড়ুন Previous

Pratinjau PMI Jasa ISM: Sektor jasa AS diprakirakan akan mengalami percepatan pada bulan Juli

Pada hari Rabu, kita akan mendapatkan pembacaan terbaru sektor jasa AS ketika Institute for Supply Management (ISM) merilis indeks bulan Juli. Konsensus mengarah pada perbaikan tipis ke 54,5 dari 54 pada bulan Juni
আরও পড়ুন Next