Batu Bara ICE Newcastle Lebih Tinggi di 139,70 Berkat Gap Atas Pembukaan

  • Batu Bara ICE Newcastle tetap tidak bergerak dari level pembukaan.
  • Presiden Trump menghentikan sejenak Project Freedom.
  • Pemerintah Indonesia mengkaji CNG untuk alternatif LPG.

Harga batu bara ICE Newcastle front month menutup hari Selasa di 139,70 yang lebih tinggi 0,36% dari penutupan hari sebelumnya namun tidak berubah dari level pembukaan. Batu bara sudah menunjukkan pergerakan yang sama selama empat hari perdagangan berturut-turut, tidak bergerak dari level pembukaan. Harga komoditas yang lebih tinggi bukan berasal dari rally harga tetap karena dibuka dengan gap atas. Pasar menantikan respon komoditas ini terhadap perkembangan baru dari Timur Tengah yang dianggap baik untuk distribusi komoditas.

Dalam beberapa hari ke belakang, batu bara ini sama sekali tidak menunjukan pergerakan setelah dibuka. Meskipun demikian, harganya lebih tinggi karena dibuka dengan gap atas. Harga yang lebih tinggi ini sekaligus mempertahankan harga untuk tetap di atas Simple Moving Average (SMA) 200-hari, sebuah indikasi bahwa trennya adalah naik dan Relative Strength Index (RSI) 14-hari di 60,52 menunjukkan momentumnya bullish karena tetap di atas level netral 50.

Suhu di Pelabuhan Newcastle Australia adalah 17°C pada saat berita ini ditulis. Cuaca diprakirakan cerah sepanjang hari dengan peluang hujang sangat rendah. Cuaca seperti ini sangat mendukung proses pemuatan batu bara ke dalam kapal di pelabuhan sehingga proses pengiriman dapat sesuai jadwal. Keadaan ini membuat cuaca tidak bisa menjadi faktor yang menjadi pendorong untuk pergerakan harga batu bara dalam waktu dekat.

Keriuhan di sekitar Selat Hormuz tampak mereda setelah Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, menghentikan sejenak Project Freedom, sebuah operasi untuk mengawal kapal-kapal netral yang terdampar di Teluk Persia untuk keluar melewati Selat Hormuz, karena ingin melihat apakah mereka dapat mencapai kesepakatan dengan Iran. Ditambah, Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, mengatakan bahwa 'Operation Epic Fury' yang dilancarkan terhadap Iran pada akhir Februari lalu telah berakhir.

Meredanya keriuhan tersebut membuat minyak West Texas Intermediate (WTI) kembali di bawah $100, melanjutkan penurunan hari kemarin. Pasar menantikan dampaknya peristiwa-peristiwa ini pada harga batu bara ke depan.

Di dalam negeri, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia (RI) merilis Harga Batu Bara Acuan (HBA) untuk periode pertama Mei 2026 dalam Kepmen ESDM No. 179.K/MB.01/MEM.B/2026. Semua harganya naik dibandingkan dengan sebelumnya dengan perincian sebagai berikut;

  • Batubara (6.322 GAR) $106,57 naik dari $103,43
  • Batubara I (5.300 GAR) $79,56 naik dari $77,71
  • Batubara II (4.100 GAR) $55,66 naik dari $52,84
  • Batubara III (3.400 GAR) $38,76 naik dari $38,30

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI, Bahlil Lahadalia, pada hari kemarin memberikan beberapa laporan kepada Presiden RI, Prabowo Subianto, seperti harga minyak mentah Indonesia dan penataan izin pertambangan mineral dan batu bara, seperti diinformasikan dalam situs Kementerian ESDM.

Dalam keterangan pers pasca memberikan laporan, Menteri Bahlil mengatakan, "Khususnya pertambangan-pertambangan, baik yang lama maupun yang baru, itu nanti akan kita mencoba untuk mengoptimalkan pendapatan negaranya secara maksimal. Dan ini kita akan menggunakan contoh seperti pembagian hasil daripada pengelolaan migas kita."

Beliau juga menjelaskan pemanfaatan Compressed Natural Gas (CNG) untuk subsitusi Liquefield Petroleum Gas (LPG). Saat ini sebagian besar besar LPG masih diimpor, sehingga CNG bisa mengurangi impor tersebut karena sumber energi dan industri CNG ada di dalam negeri. Harganya juga lebih murah sekitar 30% dari LPG serta diproyeksikan bisa menghemat devisa negara sampai Rp130 triliun. Namun, berkembangan lebih lanjut diprakirakan muncul dalam dua hingga tiga bulan mendatang. Di lain kesempatan juga sempat disinggung soal pengembangan Dimethyl Ether (DME) berbasis batu bara kalori rendah.

Grafik Harian Batu Bara ICE Newcastle

Batu Bara ICE Newcastle
Grafik harian Batu Bara ICE Newcastle

Pertanyaan Umum Seputar Sentimen Risiko

Dalam dunia jargon keuangan, dua istilah yang umum digunakan, yaitu "risk-on" dan "risk off" merujuk pada tingkat risiko yang bersedia ditanggung investor selama periode yang dirujuk. Dalam pasar "risk-on", para investor optimis tentang masa depan dan lebih bersedia membeli aset-aset berisiko. Dalam pasar "risk-off", para investor mulai "bermain aman" karena mereka khawatir terhadap masa depan, dan karena itu membeli aset-aset yang kurang berisiko yang lebih pasti menghasilkan keuntungan, meskipun relatif kecil.

Biasanya, selama periode "risk-on", pasar saham akan naik, sebagian besar komoditas – kecuali Emas – juga akan naik nilainya, karena mereka diuntungkan oleh prospek pertumbuhan yang positif. Mata uang negara-negara yang merupakan pengekspor komoditas besar menguat karena meningkatnya permintaan, dan Mata Uang Kripto naik. Di pasar "risk-off", Obligasi naik – terutama Obligasi pemerintah utama – Emas bersinar, dan mata uang safe haven seperti Yen Jepang, Franc Swiss, dan Dolar AS semuanya diuntungkan.

Dolar Australia (AUD), Dolar Kanada (CAD), Dolar Selandia Baru (NZD) dan sejumlah mata uang asing minor seperti Rubel (RUB) dan Rand Afrika Selatan (ZAR), semuanya cenderung naik di pasar yang "berisiko". Hal ini karena ekonomi mata uang ini sangat bergantung pada ekspor komoditas untuk pertumbuhan, dan komoditas cenderung naik harganya selama periode berisiko. Hal ini karena para investor memprakirakan permintaan bahan baku yang lebih besar di masa mendatang karena meningkatnya aktivitas ekonomi.

Sejumlah mata uang utama yang cenderung naik selama periode "risk-off" adalah Dolar AS (USD), Yen Jepang (JPY) dan Franc Swiss (CHF). Dolar AS, karena merupakan mata uang cadangan dunia, dan karena pada masa krisis para investor membeli utang pemerintah AS, yang dianggap aman karena ekonomi terbesar di dunia tersebut tidak mungkin gagal bayar. Yen, karena meningkatnya permintaan obligasi pemerintah Jepang, karena sebagian besar dipegang oleh para investor domestik yang tidak mungkin menjualnya – bahkan saat dalam krisis. Franc Swiss, karena undang-undang perbankan Swiss yang ketat menawarkan perlindungan modal yang lebih baik bagi para investor.

Minyak Mentah WTI jatuh karena prospek kesepakatan AS–Iran meredakan kekhawatiran Selat Hormuz

Harga Minyak AS West Texas Intermediate (WTI) turun tajam pada hari Rabu dan diperdagangkan di sekitar $91,00 pada saat berita ini ditulis, mencatat penurunan harian sebesar 8,91% saat pasar dengan cepat menilai ulang risiko geopolitik di Timur Tengah menyusul laporan dari Axios yang menunjukkan kemajuan besar antara Amerika Serikat (AS) dan
अधिक पढ़ें Previous

Indeks Dolar AS (DXY) turun di bawah 98,00 karena harapan kesepakatan damai AS-Iran

Dolar AS (USD) terdepresiasi terhadap mata uang utama lainnya pada hari Rabu di tengah harapan bahwa AS dan Iran mendekati kesepakatan untuk mengakhiri perang. Indeks USD (DXY), yang mengukur Dolar AS terhadap sekeranjang mata uang, turun lebih dari 0,7% pada hari itu, mendekati level pra-perang di 97,50
अधिक पढ़ें Next